๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐(๐๐๐ฅ๐๐๐ซ) ๐๐๐๐๐๐๐.๐๐จ๐ฆ // Pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang yang dilakukan Bride menuai berbagai tanggapan di masyarakat. Menanggapi beragam spekulasi yang muncul, Bride menegaskan bahwa tindakannya merupakan bentuk ungkapan keprihatinan dan suara hati nurani atas kondisi bangsa yang menurutnya sedang menghadapi berbagai persoalan.
Mengawali keterangannya, Bride menyampaikan salam khas Kalimantan Barat, “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.”
Menurut Bride, pengibaran bendera setengah tiang tidak memiliki maksud lain selain menyampaikan rasa duka dan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.
“Sebelumnya saya bahkan sempat berpikir untuk mengibarkan bendera Kementerian PUPR karena saya pensiunan ASN PUPR. Saya juga prihatin terhadap kondisi kementerian tersebut di bawah kepemimpinan saat ini yang menurut saya tidak menentu arah. Namun karena saya tidak memiliki bendera PUPR, saya hanya mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bride mengaku banyak menghabiskan waktu bersama masyarakat di warung kopi, warung tahu, maupun tempat-tempat berkumpul warga. Dari berbagai perbincangan itu, ia mengaku mendengar langsung keluhan dan keresahan masyarakat.
“Saya bersama rakyat. Saya mendengar langsung suara mereka di warung kopi dan tempat-tempat berkumpul masyarakat.
Pengibaran bendera setengah tiang adalah satu-satunya cara yang saya lakukan untuk mengungkapkan rasa berkabung, kemurungan, dan kesedihan yang kami rasakan,” katanya.
Ketika ditanya mengenai kondisi bangsa yang melatarbelakangi aksinya, Bride menilai berbagai persoalan ekonomi dan hukum masih menjadi perhatian masyarakat.
“Kita semua tahu kondisi bangsa saat ini tidak sedang baik-baik saja. Banyak masyarakat yang mengeluhkan sulitnya lapangan pekerjaan. Bahkan di sekitar saya ada beberapa orang yang baru kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi sejumlah program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun menilai pelaksanaannya belum sepenuhnya menjawab harapan masyarakat.
“Program-program Presiden sebenarnya baik. Namun orang-orang di sekitar Presiden harus mampu membantu mewujudkan janji-janji yang telah disampaikan kepada rakyat. Jika janji-janji itu benar-benar terlaksana, saya yakin tidak akan ada bendera setengah tiang yang berkibar sebagai bentuk protes atau keprihatinan,” katanya.
Bride juga menyoroti sejumlah kasus yang menurutnya belum memberikan kepastian hukum yang jelas di mata masyarakat, seperti kasus pagar laut ilegal di pesisir Tangerang dan Bekasi serta kasus penyelundupan pasir timah di Belitung.
“Lihat saja berbagai kasus yang menjadi perhatian publik. Masyarakat ingin melihat penyelesaian yang jelas dan transparan. Ketika kepastian itu belum terlihat, wajar jika muncul rasa kecewa dan ketidakpercayaan,” ujarnya.
Dalam pesannya kepada Pemerintah Republik Indonesia, Bride berharap program-program yang telah dirancang dapat dijalankan secara konsisten dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Jalankanlah rencana kerja pemerintah yang sudah disampaikan kepada rakyat. Presiden memiliki Asta Cita sebagai arah pembangunan nasional. Masyarakat menunggu realisasi, bukan hanya rencana. Yang dibutuhkan rakyat adalah hasil yang dapat dirasakan secara langsung,” katanya.
Ia juga meminta Presiden melakukan evaluasi terhadap para pembantu presiden yang dinilai tidak mampu bekerja secara optimal.
“Singkirkan menteri-menteri yang hanya mencari muka dan lebih mementingkan menyenangkan atasan daripada bekerja untuk rakyat. Kembalikan fokus pada misi utama mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan bangsa,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Bride menegaskan bahwa pengibaran bendera setengah tiang tidak perlu ditafsirkan secara berlebihan.
“Tidak perlu ada tafsir liar. Ini adalah simbol keprihatinan. Saya hanya menyampaikan suara masyarakat yang saya dengar setiap hari. Apalah arti simbol negara jika rakyat masih hidup dalam ketidakpastian dan kesulitan. Kami berharap keadaan bangsa menjadi lebih baik,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Bride kembali menyerukan harapannya kepada pemerintah dan masyarakat.
“Merdeka!” serunya.***(Fikarman Ndraha)









