TEMPO86.com_, PADANGSIDIMPUAN, Kehadiran dokter spesialis jantung di RSUD Kota Padangsidimpuan menjadi tonggak penting bagi penguatan layanan kesehatan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Di tengah tingginya angka kematian akibat penyakit jantung dan keterbatasan akses layanan spesialis di daerah, masyarakat kini memiliki harapan baru untuk mendapatkan penanganan lebih cepat tanpa harus menempuh perjalanan ratusan kilometer ke kota besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Seri Amni Siregar, Sp.PD.Subsp.KV(K), FINASIM, menegaskan bahwa pengembangan pelayanan jantung merupakan salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan karena penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi, baik di Indonesia maupun dunia.
“Pelayanan jantung sangat perlu dikembangkan. Selain karena penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian, kondisi geografis Padangsidimpuan yang jauh dari ibu kota provinsi membuat masyarakat membutuhkan akses layanan yang lebih dekat dan cepat,” ujar dr. Seri Amni.
Menurut dia, Kota Padangsidimpuan memiliki posisi strategis sebagai pusat layanan yang dikelilingi sejumlah kabupaten di kawasan Tabagsel. Selama ini, banyak pasien harus dirujuk ke Medan atau Padang untuk mendapatkan pemeriksaan maupun penanganan jantung yang lebih lengkap.
Jarak yang mencapai sekitar 350 kilometer menuju kedua kota tersebut tidak hanya membebani pasien dari sisi biaya, tetapi juga berpotensi memperlambat penanganan pada kasus-kasus darurat.
dr. Seri menjelaskan, langkah paling penting yang dapat dilakukan saat ini adalah memperkuat deteksi dini penyakit jantung dan pengendalian faktor risiko.
Menurutnya, sebagian besar kasus penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat mampu mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.
“Deteksi dini sangat penting. Dengan mengetahui kondisi pasien lebih awal, kita bisa mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat,” katanya.
Ia menambahkan, pelayanan yang kini tersedia di RSUD Padangsidimpuan sudah mampu menangani sejumlah kasus penyakit jantung, termasuk penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung (aritmia), hingga gagal jantung atau heart failure yang jumlah penderitanya cukup tinggi.
Gagal jantung, kata dia, sering kali merupakan komplikasi dari penyakit kronis yang tidak terkontrol, seperti hipertensi, diabetes, maupun kelainan jantung bawaan.
Selain itu, pasien yang telah menjalani pemasangan ring jantung maupun operasi bypass kini dapat melanjutkan pengobatan dan kontrol rutin di Padangsidimpuan tanpa harus kembali dirujuk ke luar daerah.
“Pasien jantung membutuhkan pengobatan berkelanjutan. Dengan adanya layanan ini, tindak lanjut pengobatan dapat dilakukan di daerah sendiri,” ujarnya.
Meski layanan spesialis jantung telah hadir, dr. Seri mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan fasilitas yang perlu segera dipenuhi agar pelayanan dapat berjalan optimal.
Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah alat ekokardiografi atau USG jantung yang hingga kini belum tersedia secara khusus untuk pelayanan jantung di rumah sakit tersebut.
Menurut dia, ekokardiografi merupakan alat diagnostik utama yang wajib dimiliki dalam pelayanan jantung modern.
Dengan alat tersebut, dokter dapat menilai struktur jantung, mendeteksi kelainan bawaan, melihat kondisi katup jantung, menilai fungsi pompa jantung, hingga menentukan terapi yang paling tepat bagi pasien.
“Selama ini kita hanya bisa melihat pembesaran jantung melalui foto rontgen. Namun penyebab pastinya tidak bisa diketahui secara detail tanpa pemeriksaan ekokardiografi,” katanya.
Selain ekokardiografi, kebutuhan lain yang dinilai penting adalah treadmill test atau tes latih jantung untuk mendeteksi kemungkinan penyempitan pembuluh darah koroner pada pasien yang mengalami nyeri dada.
Kemudian terdapat pula kebutuhan alat Holter Monitoring, yakni alat pemantauan rekam jantung selama 24 jam yang sangat membantu dalam diagnosis gangguan irama jantung.
dr. Seri mengungkapkan bahwa usulan pengadaan alat-alat tersebut telah diajukan kepada manajemen rumah sakit dan diharapkan dapat direalisasikan secara bertahap.
Dalam wawancara tersebut, dr. Seri juga menekankan bahwa keberhasilan penanganan penyakit jantung tidak semata ditentukan oleh ketersediaan ruang kateterisasi atau tindakan pemasangan ring.
Menurutnya, pelayanan awal yang cepat dan tepat justru menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan pasien.”Penanganan awal yang benar akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi yang lebih berat,” katanya.
Ia menjelaskan, meskipun fasilitas kateterisasi belum tersedia penuh di Padangsidimpuan, rumah sakit tetap dapat memberikan pelayanan awal sesuai standar medis sebelum pasien dirujuk untuk tindakan lanjutan.
Bahkan, apabila fasilitas kateterisasi telah tersedia di wilayah Tabagsel, proses rujukan pasien serangan jantung akut dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang penyelamatan pasien menjadi lebih besar.
dr. Seri menilai sistem rujukan yang terintegrasi akan menjadi solusi penting bagi masyarakat di kawasan selatan Sumatera Utara yang selama ini menghadapi kendala jarak dan waktu.
Selain persoalan fasilitas, tantangan lain yang dihadapi adalah rendahnya kesadaran sebagian pasien untuk menjalani kontrol rutin setelah mendapatkan pengobatan awal.
Menurut dr. Seri, tidak sedikit pasien yang berhenti berobat setelah merasa kondisi kesehatannya membaik. Padahal penyakit jantung memerlukan pemantauan dan terapi jangka panjang.
“Sering kali pasien tidak datang kembali untuk kontrol. Ini yang perlu terus diedukasi karena dapat menyebabkan masalah yang lebih serius di kemudian hari,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai rumah sakit tidak hanya berperan sebagai tempat pengobatan, tetapi juga harus aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan penyakit jantung secara berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur RSUD Kota Padangsidimpuan, drg. Susanti Lubis, MKM, menyatakan manajemen rumah sakit berkomitmen mendukung penguatan layanan jantung melalui peningkatan sarana dan prasarana.
Menurut Susanti, tahun ini pihak rumah sakit menargetkan pembangunan ruang catheterization laboratory (Cath Lab) sebagai bagian dari pengembangan pelayanan jantung terpadu.
Selain itu, manajemen juga tengah mempersiapkan pengadaan sejumlah alat pendukung, termasuk ekokardiografi yang selama ini menjadi kebutuhan utama dalam pelayanan spesialis jantung.
“Insya Allah tahun ini ruangan untuk pelayanan jantung dan beberapa alat pendukung, termasuk ekokardiografi, akan kita upayakan. Ini merupakan bagian dari komitmen manajemen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Susanti.
Ia juga mengapresiasi kehadiran dokter spesialis jantung di RSUD Padangsidimpuan yang dinilai menjadi aset penting bagi pengembangan layanan kesehatan daerah.
Karena itu, pihak rumah sakit akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mengetahui bahwa pelayanan dokter spesialis jantung kini telah tersedia di Kota Padangsidimpuan.
Di akhir wawancara, dr. Seri berharap pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, serta manajemen rumah sakit dapat terus bersinergi dalam memperkuat pelayanan jantung di Padangsidimpuan.
Menurutnya, rumah sakit daerah merupakan garda terdepan yang pertama kali didatangi pasien saat mengalami keluhan jantung. Oleh karena itu, ketersediaan tenaga medis dan infrastruktur yang memadai menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
“Kita berharap pelayanan jantung di Padangsidimpuan terus berkembang. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh mencari pelayanan kesehatan jantung, dan kualitas hidup pasien dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Kehadiran layanan spesialis jantung di Padangsidimpuan tidak hanya menjadi kemajuan bagi RSUD setempat, tetapi juga membuka harapan baru bagi ribuan masyarakat Tabagsel untuk memperoleh akses kesehatan yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih berkualitas.
#(Tunggul Hutagalung)#






